Durasi yang tepat

durasi-yang-tepatMenjalani hidup di tempat yang baru dan dalam suasana yang benar-benar berbeda tidaklah semudah dibayangkan. Seperti yang saya tulis dalam artikel sebelumnya (Baca: Memulai kembali). Ada saat dimana saya harus belajar beradaptasi dengan ekstra keras, dan ada juga saat dimana aku hampir menyerah. Kenikmatan hidup yang saya alami dulu bersama semua komunitas di kota sebelumnya, membuat saya semakin sulit untuk beradaptasi. Saya cenderung membanding-bandingkan pergaulan di kota yang baru dengan yang lama. Dulu saya pikir, ketika saya bertumbuh di komunitas yang dulu, saya akan semakin tangguh untuk menghadapi ‘dunia nyata’. Dunia dimana, kamu harus menjadi terang dan hanya mengandalkan Tuhan saja. Ya, saya sangat tahu teori tentang itu. Bahkan ketika kamu meminta saya untuk menuliskan essay sepanjang lima halaman untuk menjelaskan teori tersebut, saya sanggup. Namun, untuk menjalaninya tidak semudah yang dipikirkan.

Saya tahu dan merasakan bahwa Tuhan tetap memelihara kehidupan saya. Saya tahu itu dengan sangat jelas. Saya juga bisa merasakan kehadiran dan pemeliharaan-Nya. Akan tetapi, ada satu titik dimana saya haus secara rohani dan saya bahkan tak sanggup memberi ‘makan’ diri saya sendiri. Masa-masa gersang itu beberapa kali menghampiri saya. Dan, itu membuat saya merenungkan tentang pemeliharaan Tuhan.

“Seandainya saya diberi kesempatan memutar kembali waktu dan mengulang beberapa momen di dalam hidup ini, maka tak ada satu pun momen yang ingin saya ulang. Terkadang terlintas sedikit penyesalan akan ini dan itu. Emosi yang memanas kembali ketika mengingat kejadian pahit. Kadang pula ingin menikmati waktu bahagia bersama sahabat lebih lama. Tapi, tak ada satupun saat duka ataupun suka yang ingin saya ulang.”

 

Saya sangat yakin bahwa apa yang Tuhan lakukan dalam kehidupan saya adalah untuk sebuah kebaikan. Tuhan ingin mengikis keburukan saya, dan ingin mengasah saya lebih lagi untuk mengenal-Nya. Semua pengalaman hidup yang saya rasakan bersama Tuhan, membuat saya menjadi seseorang seperti sekarang ini. Ya, masih egois, masih keras kepala, tapi saya sekarang berada di tangan yang tepat. Tangan Sang Penjunan Agung yang akan membentuk saya menjadi lebih baik.

Saya percaya Tuhan membuat semuanya ini indah pada WAKTU yang tepat, pada DURASI yang tepat dan bersama ORANG yang tepat.

Untuk semua pergumulan hidup yang dirasakan oleh teman-teman, cobalah berdiam diri di hadapan Tuhan. Saya tahu ini tidaklah mudah, karena kecenderungan kita adalah menuntut jawaban yang instan dari Allah.
Katakan dengan rendah hati dalam doamu, “…Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini” (Markus 9:24).

Tuhan bukan saja membuatnya indah pada WAKTU yang tepat, tetapi juga pada DURASI yang tepat. 17 Tahun cukup untuk membentuk diri saya di kota kelahiran saya, dan 4 tahun pun cukup (bahkan sangat cukup) untuk membentuk karakter saya dan menumbuhkan iman saya kepada-Nya, ketika saya kuliah. Dan saya hari ini harus katakan, bahwa ketika Tuhan yang memelihara saya selama 17 tahun dan 4 tahun itu juga akan memelihara saya untuk tahun-tahun mendatang. Saya tidak tahu, berapa tahun saya akan diproses disini, tapi saya tahu DURASI Tuhan sangat tepat untuk menjadikanku pribadi yang tangguh.

Dan Tuhan yang saya percaya itu juga, akan membentukmu dalam waktu dan durasi yang sangat tepat.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s