Sebuah Refleksi tentang Kematian

Kematian terdengar begitu menakutkan. Namun, sayangnya kematian datangnya tidak dapat diprediksikan. Setiap orang tentu saja akan menghadapi kematian, entah hari ini, besok, dua hari lagi, atau beberapa tahun lagi. Tak seorang pun yang tahu kapan kematian itu akan merenggut nyawa kita.

Ini merupakan tulisan kedua saya tentang refleksi akan kematian (lihat tulisan pertama). Mendengar kabar rekan / kerabat orang – orang terdekat saya meninggal, membuat saya selalu meneteskan air mata. Saya mungkin tidak mengenal orang tersebut, tetapi selalu bertanya “Mengapa hidup sesingkat ini?“. Tidak ada yang bisa menentukan, seorang pun tidak. Hanya Allah saja. Hari ini sangat sehat, bisa saja besok meninggal. Ada yang karena kecelakaan, penyakit atau bahkan tiba-tiba begitu saja.
Lalu, apakah hidup menjadi penuh dengan ketakutan akan kematian?

Tidak! Seharusnya realita akan kematian justru membuat kita semakin memaknai hidup ini dengan melakukan hal yang terbaik setiap waktu. Bagi orang Kristen, kematian bukanlah hal yang menakutkan. Kematian badani akan membawa kita akan kehidupan kekal bersama Allah Tritunggal.

sebuah-refleksi-tentang-kematianSaya pernah dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit karena sesak napas. Hal ini cukup sering terjadi. Ketika dirawat, saya diberi uap air yang menutupi hidung dan mulut saya. Beberapa selang juga harus ‘bersarang’ di tubuh saya. Dalam keadaan terbaring lemas di atas kasur rumah sakit, saya hanya berpikir “Andaikata saya mati hari ini, sudahkah saya memberikan yang terbaik? Mungkin kematian saya menjadi sesuatu yang mendukakan hati keluarga saya. Tapi harusnya saya senang karena bisa bertemu Tuhan dan juga mama saya. Apakah hari ini, Tuhan? Ataukah nanti?“. Pertanyaan-pertanyaan akan kematian semakin menakuti saya, tetapi di saat yang bersamaan juga semakin membuat saya bersukacita. Saya pun pernah merasakan kehilangan orang yang saya sayangi. Ya, itu sangat menyakitkan. Ketika hidup sudah sangat nyaman dan sangat menyayangi orang tersebut, tetapi Tuhan memanggil orang tersebut “pulang”. Kesedihan tentu saja melanda kehidupan saya beberapa waktu lamanya. Tetapi, pada akhirnya kesedihan itu berubah menjadi sebuah sukacita bahwa orang yang saya sayangi sekarang sedang bersama-sama dengan Tuhan, dengan tidak lagi merasakan sakit dan derita seperti yang dia alami di dunia.

Pada kenyataan inilah, seharusnya hidup kita sebagai seorang Kristen harus menjadi lebih bermakna. Dimana, kita tidak lagi menyia-nyiakan hidup ini dengan hal-hal yang tidak berguna. Kita harus siap sedia setiap saat. Kita harus terus melakukan segala sesuatu sekarang dengan sukacita dan totalitas. Agar ketika waktunya tiba nanti, kita dapat berkata “Well done“.

Yang terakhir, sebuah refleksi tentang kematiaan juga membuat kita memandang pada Salib Kristus. Dimana, Salib Kristus, tempat Yesus disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita menyimbolkan sebuah kemenangan atas maut. Ketika kita mengarahkan mata kita kepada Salib Kristus, itu seharusnya membuat kita malu untuk berbuat dosa lagi.

Kematian Yesus membawa kemenangan atas maut dan kebangkitan-Nya memberikan kita pengharapan.
Sudahkah kita menjadi “5 Gadis Bijaksana” dalam Matius 25: 1 – 13 yang selalu berjaga-jaga?
Apakah realita akan kematian badani yang harus kita alami di hari besok, membuat kita semakin memaknai hidup ini?
Kiranya setiap hal yang kita lakukan, selalu memandang akan Salib Kristus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s