Waktu Hidup Tak Panjang

Beberapa minggu ini saya melihat isi timeline facebook saya penuh dengan peristiwa kehilangan. Ada yang kehilangan orang tua, kakek, nenek dan juga teman-temannya. Hampir setiap hari ada berita kehilangan. Bahkan beberapa hari yang lalu saya baru saja melayat ke sebuah rumah duka di Jakarta. Keluarga dekat dari teman saya meninggal dalam sakitnya. Sakit yang diderita cukup lama, dan dia harus terus berjuang dalam kesakitan tersebut. Betapa bersyukurnya ketika kita masih diberi kesehatan yang baik.

Di dalam perjalanan, saya kemudian merenung, betapa singkatnya hidup ini. Tidak ada yang tahu, kapan kita akan meninggal atau apa yang akan terjadi di hari besok. Sungguh, hal itu kembali membuatku gentar, apa aku sudah melakukan yang terbaik yang bisa kuberikan dan kemudian di akhir hidupku (yang entah kapan itu) aku dapat berkata “Well Done”? Apa aku sudah siap untuk kapan saja aku dipanggil oleh Tuhan? Saya kemudian bertanya kepada diri saya, 21 tahun dalam hidupmu, apa kontribusimu bagi keluarga, gereja dan bangsa?

Hidupku ini milik-Nya

Hidup ini milik Tuhan. Dia yang memberikan kita anugrah untuk hidup dan menebus segala dosa kita. Dia memberi nafas kehidupan bagi kita, bahkan disaat kita sering mengabaikan Tuhan. Dan Tuhan bisa kapan saja untuk mengambil ‘nafas’ itu kembali. Kehidupan yang berasal dari Tuhan ini seharusnya menjadikan kita sebagai seseorang yang berhati-hati dan tidak menyia-nyiakan hidup begitu saja.

waktu-hidup-tak-panjangWaktu hidup tak panjang.

Ya, waktu hidup kita di dunia ini tak ada seorang pun yang tahu. Bisa saja, ketika saya sedang mengetik artikel ini, saya kena serangan jantung, atau tiba-tiba meninggal. Who knows?
Kenyataan bahwa kita hidup di dunia ini hanya sekali saja, kadang membawa kita dalam dua pilihan yang sangat berbeda jauh. Yang pertama, kita dapat memakai hidup kita dengan seenaknya, dan kemudian beralasan “You only live once! So, Have fun with your own life. Do whatever you want to do”. Ini membuat kita banyak terjatuh pada kenikmatan dunia yang sesaat. Kita tidak lagi peduli dan percaya tentang kehidupan setelah kematian, sehingga terus menggunakan hidup ini dengan seenaknya sendiri. Yang kedua, kita akan semakin menghargai waktu hidup di dunia ini. Kita akan melakukan sesuatu yang berharga, karena kamu tahu hidup hanya sekali. “You only live once! So, do what your best!”. Ketika kita hidup di dunia ini, berarti ada sebuah tugas besar yang harus dikerjakan, sebelum kita menikmati persekutuan kekal bersama Allah tritunggal di kehidupan yang akan datang.

Lakukan apa yang Penciptamu rancangkan

Para pembuat robot selalu menciptakan robot dengan tujuan yang jelas. Robot itu dikatakan berfungsi dan berhasil ketika dia bisa memenuhi tujuan si penciptanya. Apalagi kita sebagai manusia yang sangat jauh melebihi robot itu. Tentunya kita memiliki free will (kehendak bebas) untuk memilih mana yang harus kulakukan. Namun, sejak semula kita diciptakan, kita diciptakan dengan tujuan. Tujuan kita adalah untuk memuliakan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Dia menciptakan kita masing-masing unik, dengan talenta, kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tentunya, kita harus melakukan apa yang Sang Pencipta kita inginkan. Kita harus mencari tahu passion (hasrat) terbesar yang Tuhan taruh di dalam hati kita untuk kita lakukan bagi dunia ini. Tidak selalu dengan melakukan hal yang sangat besar. Asalkan itu hal Tuhan mau untuk kita lakukan, lakukanlah! Bisa jadi, Tuhan memanggilmu untuk menjadi full timer mother, pengajar di pedalaman, melakukan mobilisasi misi, menjadi programmer, atau apapun itu. Selama apa yang kamu kerjakan adalah passion-mu dan kamu menemukan kebahagiaan karena sebuah kepuasan akan kasih Kristus yang dapat mengalir melalui pekerjaanmu itu, lakukanlah! Lakukan yang terbaik yang kamu bisa lakukan, selagi kamu memiliki waktu. Lakukan yang terbaik, seolah-olah kamu tidak lagi memiliki waktu di besok hari. Jangan sia-siakan waktumu dengan melakukan pekerjaan yang membuatmu semakin menjauh dari Sang Pencipta!

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, namun kita tahu pasti apa yang terjadi ‘nanti’

Kita tidak tahu anak tangga seperti apa yang akan kita injak di hari besok, tapi kita tahu bahwa akhir dari tangga-tangga ini membawa kita menuju kehidupan kekal bersama Allah Tritunggal.

Kesadaran bahwa waktu kita tidaklah lama di dunia ini dan hidup ini milik Tuhan, seharusnya membuat kita terus mengucap syukur kepada Tuhan.
Bersyukur ketika kita mengalami kedukaan, karena kita masih memiliki nafas kehidupan.
Bersyukur ketika kita dikhianati karena kita masih punya sahabat yang kekal, yaitu Allah itu sendiri.
Bersyukur ketika kita memiliki pekerjaan yang meaningful, karena tidak semua orang berkesempatan yang sama.
Bersyukur, bersyukur, bersyukur dan bersyukur.
Itu yang bisa kita lakukan, bersyukur, berikan yang terbaik, dan biarlah pada akhirnya Tuhan dapat berkata kepada kita “Well Done, my dear daughter”.

 

One thought on “Waktu Hidup Tak Panjang

  1. Pingback: Sebuah Refleksi tentang Kematian | Journey of Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s