Memulai Kembali

“Buku kehidupan yang sama, tetapi memulainya kembali dari lembaran pertama. Tidak kosong, tapi banyak catatan yang harus ditulis ulang”

Kehidupan yang berpindah dari kota yang satu ke kota yang lainnya, membuat saya menjadi (setidaknya) lebih mandiri. Ketika berada di kota asal, kamu sudah terbiasa dengan kehidupan kota itu, sudah lebih banyak dikenal, bahkan mungkin mempunyai ‘image’ yang baik di masyarakat. Semuanya akan berubah ketika kamu merantau – atau setidaknya memulai kehidupan di kota yang berbeda. Semua itu harus kamu bangun lagi satu per satu.

photo credit: ambassadorforjesus.blogspot.com

photo credit: ambassadorforjesus.blogspot.com

Merantau membuat mandiri? Ya, perkataan itu ada benarnya. Setidaknya, kamu akan memulai semuanya kembali dari 0. Kamu akan belajar mengenai budaya daerah itu, memperbiasakan diri dengan cita rasa makanan, bahasa dan gaya hidup. Semua itu, memaksamu untuk belajar secepat mungkin. Jika tidak, mungkin kamu akan menyerah di awal kehidupan ‘baru’-mu itu.

Bukan cuma tentang itu, statusmu sebagai ketua atau sebagai pemimpin di organisasi / gereja juga tidak dapat kamu gunakan di kota baru.

Orang-orang akan memandangmu sebagai “si anak baru yang akan belajar dari 0”. Mungkin beberapa kemampuanmu lebih tinggi dari orang – orang di tempat baru, tapi itu bukan jaminan. Sekali lagi, kamu harus belajar dari 0. Dan untuk memulai itu semua, dibutuhkan EKSTRA kerendah hati-an.

Adaptasi dan teman baru. Itu juga yang harus kamu lakukan. Kamu tidak akan bisa terus-terusan bersandar dan bergantung pada teman-temanmu di kota yang lama. Ada orang-orang yang akan datang dan pergi dalam kehidupanmu. Dan, kamu juga harus memulai mencari sahabat-sahabat barumu. Mungkin cara hidup mereka, obrolan mereka, belum kamu mengerti. BERADAPTASILAH, karena memang itu yang kamu butuhkan saat ini.

Pandai bergaul. Hal ini tidak boleh dilupakan. Walaupun kamu harus banyak beradaptasi, tetapi pandai-pandailah memilih teman. Kamu harus filter semua hal, dan jangan sampai hal yang buruk akan menjadi kebiasaan barumu.

Sangat rentan sekali bagi seseorang yang dulunya hidup di kota kecil dan berpindah ke kota besar untuk terjebak dalam pergaulan yang salah. Culture shock dan ingin mencoba-coba. Apalagi bagi si anak yang dulunya sangat dijaga pergaulannya. Di kota yang baru kamu akan bebas, bebas melakukan apa saja. Oleh karena itu, kamu harus berhikmat memilih semua itu.

Akan datang saatnya kamu merasa sepi. Sepi dan hampir putus asa, hingga yang ada dalam pikiranmu hanya “Bawa aku kembali ke kota yang dulu”. Disaat seperti itu, semua nasehat tak akan banyak menolongmu. Yang kamu butuhkan adalah ketegaran hati dan sahabat. Sayangnya jika kamu belum punya sahabat di kota yang baru, kamu akan semakin putus asa. Kabar gembiranya, kamu (kita) punya seorang sahabat yang selalu setia berada dan melindungi kita. Namanya, Yesus. Dia Allah yang turun menjadi manusia dan menebus semua dosa-dosa kita.

Percayalah bahwa semua hal yang kamu alami diatas, kamu tidak pernah sendirian. Ada Yesus yang selalu melihatmu, bahkan ketika sehelai rambutmu jatuh, Dia pun tahu.

Setiap proses pembelajaran hidup, adaptasi yang begitu sulit, belajar rendah hati dan mau mendengarkan orang lain adalah proses yang akan membuatmu semakin dewasa. Dan semua itu kamu akan lalui bersama Yesus.

Seorang teman berkata kepada saya, ketika saya mengeluh tentang beratnya ‘merantau’. Katanya “jika di tempat fitness, kamu akan dilatih untuk mengangkat beban yang lebih dari beban badanmu. Dan dengan begitu kamu akan semakin berkembang. Akan berbeda ketika kamu mengangkat beban yang ringan – ringan saja. Perkembangan tetap ada, tapi prosesnya akan berjalan sangat lama. Dan itulah hidup, ketika kamu punya beban hidup yang (terlihat) lebih dari kapasitasmu, yakinlah bahwa Tuhan bersamamu dan itu akan mendewasakanmu”.

Saya sendiri sejak lahir hidup di Kota Ambon. Kuliah memaksakan saya untuk merantau ke Surabaya lebih kurang 4 tahun. Dan saat ini, saya berada di Ibukota Jakarta. Hal ini tidaklah mudah bagi saya. Perasaan sepi dan putus asa juga saya rasakan. ingin berteriak dan marah, entah kepada siapa. Minimnya teman di kota yang baru, membuat saya hampir menyerah. Di dalam keputus asaan itu, Yesus Kristus menghampiri saya sekali lagi dan berkata “jangan takut sebab Aku besertamu”. Inilah hal terindah yang kurasakan. Adakah yang lebih indah daripada ini?

Yesus selalu besertaku, disaat aku merasa sendiri. Aku bertanya tentang ketakutan kepada Allah sumber penghiburan. Aku bertanya tentang ketidakadilan kepada Allah yang Maha Adil. Dan aku bertanya tentang kelemahan kepada Allah sumber kekuatan. (Seri Terang Ilahi: Bangkit dari Debu – Bill Crowder – PT. Duta Harapan Dunia). Ketika aku bertanya akan perlindungan, aku bertanya kepada Allah yang Maha pelindung. dan itu semua membawaku masuk ke dalam hadirat Allah. Allah yang melindungiku dan memeliharaku.

Teringat sebuah pujian, yang sudah sejak kecil kudengar. Tetapi lagu ini terngiang kembali dan selalu mengingatkanku akan kebaikan ALlah

Tuhan Yesus setia

Dia sahabat kita

dalam s’gala susahku

Selalu menghiburku

Dia mengerti bahasa

tetesan air mata

Waktu badai mengamuk

dan gelombang menyerang

Tuhan Yesus setia

Tuhan Yesus setia, ya Dia Sangat setia

Jika kamu hari ini merasa sepi dan putus asa dalam semua pertandingan hidupmu di dunia ini, berdoalah kepada Tuhan. Pekalah mendengar dan merasakan perlindungannya yang ajaib bagi kita.

Jakarta, 30 Oktober 2015

2 thoughts on “Memulai Kembali

  1. Pingback: Durasi yang tepat | Journey of Life

  2. Pingback: Graduation: Momen Mengenang Kebaikan Tuhan | Journey of Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s