Comfort Zone = Danger Zone

Mungkin berat rasanya ketika harus meninggalkan sebuah tempat yang membuatku bertumbuh dalam segala aspek. Ya, Pelayanan Mahasiswa, tempatku bertumbuh dalam segala aspek.

Ketika itu, ku mulai selangkah demi selangkah. Berawal dari Welcome to Serve Petra (WTSP) saat masih semester 1, dilanjutkan dengan mengikuti sebuah program rutin Class of Servant Leadership Community (CSLC). Banyak hal disana dimana aku bisa bertumbuh, aku perlahan mulai mengenal yang namanya saat teduh, waktu teduh bersama Tuhan. Mulai belajar apa yang disebut Pendalaman Alkitab (PA) dan juga banyak hal lainnya. Bertemu dengan pembimbing – pembimbing yang begitu sukacita melayani ratusan mahasiswa baru ketika itu. Dalam hatiku berbisik, “aku ingin melayani Tuhan lewat cara demikian, seperti mereka. Suatu saat, ya suatu saat”.
Langkah kaki kecil ini mulai bergerak maju ke depan, menapaki satu demi satu anak tangga. Tibalah aku saat itu berlari menuju Gedung D lantai 2, sendiriian dengan senyum semangat di wajahku, berkata “aku ingin daftar menjadi pengurus Pelma (Pelayanan Mahasiswa)”. Semua disana menyambutku dengan sukacita dan sangat welcome sekali. Ah, dari situ saja aku sudah sangat merasa nyaman.
Proses wawancara seleksi pengurus Pelayanan Mahasiswa dimulai. Disaat itu, tidak seperti wawancara yang kubayangkan sebelumnya. Dimana, sangat tegang dan pertanyaan yang sangat menjebak. Ya, beda sekali, bahkan aku berpikir itu bukan wawancara, tapi bagaimana Kakak – kakak itu ingin mengenalku lebih dekat. Kami, saat itu aku dan Ko Buddy (Mantan Ketua Umum Pelma) memulai pembicaraan dengan doa dan semuanya mengalir begitu saja. Ada rasa kepercayaan yang muncul ketika kami saling berbagi cerita. Waktu berlalu…

Aku begitu tegang menanti pengumuman penerimaan, namun masih ada lagi satu tahap yang harus kuikuti, yaitu camp Retreet Kader. Camp in dibuat untuk mentransfer visi dan misi dari Pelayanan ini sendiri. Disana, aku mengikuti semua sesi dengan baik dan banyak hal yang kudapat. Mendapat banyak sekali teman baru, melihat mereka kakak – kakak yang telah melayani lebih dulu, bukan dengan tawa tapi dengan air mata kebahagiaan. Saat itu, aku begitu menikmati sekali moment RK, dan jarum dinding pun terus berputar. Aku begitu resah menanti pengumuman penerimaan setelah pulang camp. Sampai tiba saatnya teman – temanku yang lain sudah mendapatkan sms untuk fellowship penerimaan, dan aku tidak dapat. Aku begitu panic dan sudah mulai hopeless, mungkin aku tidak lulus seleksi. Aku menanyakan beberapa orang di Pelma, dan tak lama kemudian aku disms. Sms itu membuatkan begitu senang dan mengekspresikan sukacita ku dengan begitu “lebay”, lompat – lompat kegirangan dan teriak. Ah, lucu juga mengenang kisah itu kembali.
Walau begitu capek setelah seharian mengikuti perkuliahan, aku tetap semangat dan menuju Gedung T lantai 3, untuk mengikuti fellowship. Singkat cerita, ada sebuah game dimana pada akhir game tersebut, akan mempertemukan kita pada bidang kita masing – masing. Dan, taraaaaaaaa, aku masuk di bidang Persekutuan. Wow, jauh dari target dan keinginanku, karena sebelumnya aku ingin ada dipengkaderan atau di Tim Litbang. Tapi, aku tetap sukacita.
Saat itu kami berkumpul sendiri dengan “bidang” baru kami masing – masing. Disana, aku bertemu dengan ko Elliot, Kak Leo, Kak Nissa, Thasia, Jason, Arya, Stephany dan Euodia. Jaim banget aku di awal – awal, hehehe. Ko Elliot sebagai ketua bidang kita pun agak garing sih, heheh.
Well, pelayanan dimulai lewat sebuah Pra Musyawarah Kerja, dan dilanjutkan ke Musyawarah Kerja yang sebelumnya didahului oleh Campus Servant Ministry Camp.
Memiliki keluarga baru, koko yang selalu perhatian, teman – teman yang care, gokil dan penuh dengan tawa, membuat ku merasa nyaman sekali dalam komunitas ini. Aku bertumbuh lewat set papa yang kita kerjakan, apa yang kita pelajari, setiap PA di dalam bidang. Ketika aku sakit, mereka begitu mengkhawatirkanku. Ketika ku sedih, mereka menghapus air mataku. Mereka menjadi rumah kedua bagiku. Terlebih dari semuanya itu, mereka mengantarkanku pada pengenalan akan Kristus sendiri.
Perjalanan ini ku sebut sebuah perjalanan imanku, dan tibalah aku pada penghujung periode pelayanan ini. Kami harus segera memutuskan untuk ingin tetap melanjutkan pelayanan disini atau melanjutkannya di lading yang berbeda. Tanpa ragu sedikitpun, tekadku begitu bulat, aku akan melanjutkan pelayanan ini hingga akhir. Taraaaa, singkat cerita tibalah aku pada periode kedua aku pelayanan.
Ya, dengan suasana yang baru, dengan teman – teman dalam bidang yang berbeda, tapi itu tak mengurangi sukacitaku. Aku diberi tanggung jawab yang lebih untuk menangani sebuah program yang lebih besar dibanding programku periode lalu.
Dari pelayanan ini, aku bahagia sekali, aku seperti memiliki banyak adik. Dalam perjalanan hidupku, aku kehilangan seorang adik kecil ku bersama dengan mamaku. Tapi kini, Tuhan memberikan aku penggantinya, Tuhan memberikanku adik – adik yang dengan setia melayani Tuhan juga. Sherly, Levia, Agnes, Irene, Lisa dan Sidley. Bukan hanya itu, diluar komunitas ini, aku juga memiliki adik – adik yang lain, Kezia, Andy, Kevin, Owen, Fandy, Anas, Erista, Vica dan semuanya. Ah, bahagia aku bisa memiliki adik – adik seperti mereka.
Pelayanan di periode kedua ku tinggal 1 semester lagi. Aku begitu ragu untuk melangkahkan kakiku di periode ketiga. Banyak sekali keraguan dan kekhawatiran yang kupunya.
Tapi malam ini, aku begitu bersyukur kepada Tuhan, ketika Tuhan mengijinkanku untuk mengenalkan Kristus, mengenalkan Pelma untuk adik – adikku. Untuk adik astorku, 3 orang lelaki tangguh dan sopan, hehe. Untuk yang lainnya juga, yang dengan begitu setia aku “promosi” Pelma, hehe. Aku berpikir, mungkin pelayananku di Pelma ini sudah harus berakhir sampai di periode kedua ini, tapi Puji Syukur untuk tongkat ekstafet yang sudah sampai ke tangan adik – adikku. Biarkanlah mereka melanjutkn perjalanan ini, melanjutkan pelayanan ini.
Sedih, ya sedih ketika berpikir aku harus meninggalkan mereka semua, tapi apa boleh buat, aku harus pergi menjelajah dunia nyata. Sudah cukup lama, aku berada dalam sebuah Karantina di sebuah “Panti Rehabilitasi” Iman. Seharusnya sudah cukup ilmu dan pengalaman, iman yang kudapat untuk ku bisa bertahan dan menghadapi setiap tantangan diluar sana.
Terima Kasih Tuhan Yesus, untuk mereka kakak – kakak yang begitu setia memperkenalkan Kristus dan mengenalkan pelayanan ini kepadaku. Untuk semua teladan dan legacy yang telah mereka berikan kepadaku. Mereka yang turut mengambil bagian dalam prosesku menjadi serupa Kristus, prosesku mengenal Engkau lebih dan Lebih lagi.
Terima kasih Tuhan Yesus, untuk mereka adik – adikku yang dengan begitu setia mengikuti setiap proses yang ada. Terlebih, ketika mereka bersama – sama berpikir tentang pelayanan ini kedepan. Terlebih ketika mereka akan melanjutkan tongkat ekstafet pelayanan ini disini, di kampus ini, menjadi terang di kampus ini.
Terima Kasih Tuhan Yesus, untuk kasihMu yang begitu besar, bagiku, sehingga engkau mengijinkanku untuk berproses bersama selama 2 periode di pelayanan ini. Terima Kasih dan Terima Kasih, tidak ada kata lain selain ucapan syukur dan rasa terima kasihku kepadaMu, Tuhan.
Pakai kami semua, pakai Agnes, Pakai kakak – kakakku, pakai adik – adikku untuk menjadi alatMu menyatakan Kerajaan Allah di tengah – tengah dunia ini.

NB:
Kenapa note ini saya beri judul Comfort ZOne = Danger Zone? Karena saya merasa ketika saya sudah nayaman dalam zona saya di Pelayanan MAhasiswa ini, saya merasa takut dan khawatir ketika saya harus keluar dari zona ini, saya menjauh dari Tuhan, karena kehilangan komunitas ini.

“Oleh karena kemurahan Allah, kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati” – 2 Korintus 4 :1

One thought on “Comfort Zone = Danger Zone

  1. Nice post, ce Ani! (y)
    Meskipun dari luar kelihatannya Pelma itu LK yang paling ‘invisible’ dan terlihat lebih santai daripada yang lain (?), menurutku banyak banget orang yang terberkati dan belajar banyak dari Pelma. Bukan cuma buat pengurus aja, tapi buat orang-orang yang ‘keep in touch’ sama Pelma (termasuk aku😄 wkwkwkw) Bersyukur banget bisa dipertemukan sama ce Ani & banyak temen-temen Pelma yang lain~
    Semangat ya ce buat segala sesuatu yang cece lakuin ke depannya, let Him be glorified in everything you do.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s