sebuah prolog dalam DIAM

Ini kisah tentang kisah cinta dua orang sahabat. Dalam persahabatan mereka, satu hal yang terpenting, gak boleh ada yang menghancurkan persahabatan ini. termasuk, cinta. Begitulah mereka menyebutnya.

Dalam angin malam, dan suhu cuaca yang tidak normal, Queen hanya memandang dalam diam. Terlihat, Queen sedang benar – benar memikirkan sesuatu, sorot matanya menceritakan sebuah kisah yang ntah berujung kemana. Sorot mata itu menggambarkan kekecewaan yang tak mampu diungkapkan. Disisi lain, bisa saja Queen sedang dalam kondisi yang sangat egois. Banyak hal yang tergambar dari sorot matanya yang tajam yang hanya memandang kesatu arah itu saja. Mengikuti bayangan itu, dan berbalik jika kedua mata itu tak sengaja bertemu.

Mereka masih tertawa. Sangat keras, bahkan terbahak – bahak. Tapi, lihat, sorot matanya Queen gak berubah. Masih seperti di awal tadi. Apa yang terjadi pada Queen? Mungkinkah sakitnya Queen kambuh lagi? Atau ada hal lain? Kasihan Queen. Tertawa dalam tangis dan mencoba tersenyum diatas pedih hati.

Diam….. begitu diam. Tak seorang pun dari mereka yang berinisiatif memulai percakapan. Diam, hingga kedua pandangan gak lagi saling bertemu.

Mungkin, ga ada seorang pun diantara kerumuman komunitas itu yang sadar akan ada hal yang aneh. Tapi, aku, penulis cerita ini, mengetahui ada sesuatu yang aneh.

———————————
Hari ini, aku pergi ke sebuah tempat, dan bertemu dengannya lagi. Aku ingin mencoba untuk fokus dan tidak memperdulikan keadaan dia. Dan ya berhasil. Tapi tepat saat acara berakhir, fokus ku mulai blur dan mulai mempertanyakan banyak hal. Aku mencoba untuk tetap berpikir positif saja. Tapi, ketika kami keluar dan berada tepat di bawah langit malam yang terbuka lebar di atas kami, hatiku langsung menjadi tak karuan. Semuanya terbukti hari ini. dan lihat, mereka mengenakan sesuatu yang sama, bukan? Aku sudah melihat buktinya hari ini. lantas, apa yang terjadi dengan minggu lalu. Alibi sajakah?

Mendadak, semangat untuk pergi makan bersama mulai menurun. Tidak ada lagi nafsu makanku. Aku menjadi diam, dan hanya tertawa sekedar ketika yang lain ikut tertawa. Aku memperhatikannya dari jauh. Tapi sorot matanya, bukan memandang ke aku. Sorot matanya memandang ke arah lain, ke arah……………………. d..i..a.

Hatiku berteriak, mungkin menangis, ntahlah. Hatiku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku sudah banyak mendengar dan mempelajari teori A, teori B, bahkan sampai teori Z. Aku boleh saja mengatakan akan kujalani semua teori itu, tapi ketika tiba dilapangan, semuanya menjadi sirna. Perasaanku memenangkan logikaku malam ini.

Sepatah kata pun gak berujar dari bibirnya. Kita saling diam, dan dalam diam, aku menangis. Ntah mengapa. Apa aku yang terlalu egois ataukah ???

Perasaan ini sudah gak bisa dibendung lagi. Sampai kapan kita diam begini? Sampai kapan kita berlari dari masalah dan seolah – olah sedang gak terjadi apa – apa? Sampai kapankah kita bersikap sangat tidak dewasa seperti ini?

——————————————————-
Hari ini, terulang seperti minggu – minggu sebelumnya. Aku biasa saja menjalani hari ini. dengan semangat, aku pergi ke sebuah tempat bersama teman – temanku. Aku senang berkumpul dengan mereka dan belajar bersama dengan mereka.

Hanya saja, aku gak ngerti, hari ini ada sesuatu yang berbeda dengan Queen. Mungin tentang masalah seminggu lalu, yang ternyata kuingkari minggu ini? aku pikir, dia terlalu egois, memikirkan dirinya sendiri. Padahal, aku gak pernah bersikap sesuatu yang salah pada dirinya. Tapi, hari ini dia berbeda. Ah, aku acuhkan saja. Mungkin, dia memanng sedang banyak masalah, apalagi menjelang hari ujian.

——————————————————-
Plegmaku berhasil memimpin diriku. Aku percaya, ini gak lepas dari apa yang namanya kendali dan rencana Tuhan. Namun, aku bingung, kenapa aku gak bisa menempatkan sikap melankolis ku dan plegma ku dalam porsi dan tempat yang tepat. Bersembunyi di balik topeng plegma, aku mencoba biasa saja. Aku tahu, ada sesuatu yang salah. Tapi, pikirku, pasti akan terselesaikan sendiri kok. Mungkin, lebih baik, dengan diam seperti ini, akan menyelesaikan masalah. Dan kupikir itu ide yang baik. Sampai kapan aku harus menuruti keinginannya yang begitu egois? Bukankah dia harus juga menerima kenyataan ini? biarlah, itu semua proses untuk dirinya. Dan yaaah……… biarkan semua berjalan begitu saja. Bukan kah ini adalah salah satu keunggulanku? Tenang dalam menghadapi masalah….

———————————————————-
Sungguh, aku gak berharap apa – apa lagi sekarang. Yang kubutuh hanya Tuhan-ku saja. Aku belajar bagaimana, di dalam penyelesaian setiap masalah, aku menjadi Queen yang bersandar pada Tuhan. Bukan berharap pada mereka yang akan menyelesaikan kegelisahn dan kegundahan hatiku. Aku banyak belajar, tapi begituuu sulit untukku lakukan. Aku mulai kehilangan fokusku untuk datang di tempat ini. tapi, aku masih bisa menempatkan diriku untuk berada pada posisi yang tepat dalam sebuah komunitas. Mungkin, dengan mengurangi semua intensitas ini, aku akan bisa segera mengakhiri kegundahan ini. dan untuk menguranginya, aku tak perlu lagi ngomong ke mereka, untuk bantu aku, aku cukup cerita pada Tuhanku. Dia yang punya hidup ku kok, bukan mereka. Walau pedih hatiku, walau sakit hatiku, karena melihat mereka yang kusayangi melakukan hal ini padaku. Tapi aku mau mencoba fokus, dan biarkan hidupku seutuhnya bergantung pada Tuhan. Belajar menyerahkan semuanya pada Tuhan.

————————————————————–
Semakin lama menganalisa, ternyata Queen memang sedih hatinya melihat sebuah realita yang sedang dia berusaha untuk lupakan. Dan ketika itu, yang kubisa ngomong ke Queen, hanyalah : “berhentilah. Netralkanlah seluruh perasaanmu”. Tak bisa ngomong banyak ke Queen, tapi semoga Queen cepat keluar dari masalah ini. ini akan sangat menyakiti hatinya, bahkan ketika dia mencoba melupakan, dia harus tetap tersakiti.

Bagaimana Queen cepat menghapus air matanya, jika yang membuatnya menangis adalah orang yang seharusnya menghapus air matanya itu.

Kisah ini begitu RUMIT :’)

2 thoughts on “sebuah prolog dalam DIAM

  1. malam itu, ketika tak seorang pun menyadarinya, tetap terasa nyata di mataku kalau Queen sdh berubah sikap ketika malam menjelang. memang kuakui Queen sdh sgt pandai memasang topeng di dpn org lain. tp yg pasti, Queen tdk mgkn bs menipu dirinya. Queen hrs bs jujur thdp dirinya sendiri, berdamai dg dirinya, dan memaafkn dirinya. memang tdk akan prnh mudah bagi seorang melankolis utk melupakan cinta itu. “Masio aq ws ga ngejar de.e lagi, yo ttp, Laur, ga mgkn aq isa lalikno de.e gitu ae. de.e bakal ttp pny tmpt xg special nd hatiku.” (quoted from your big brother)
    so, klo aq pribadi sih ga akan lari krn lari hny dilakukan oleh seorang pengecut. hadapi sj perasaanmu tp berdamailah dg hatimu sendiri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s