Kesombongan Rohani

Kadang semakin kita banyak tahu, sudah seharusnya kita semakin rendah hati. Aku tertarik dengan perumpaan padi yang semakin merunduk bertanda dia semakin berisi.

Dan ku rasa, itulah kehidupan manusia. Tapi pada kenyataannya sangat lain. Motivasi kita mulai berubah di tengah perjalanan kita menuju ‘yang banyak tahu’ itu. Atau terkadang, kita malah semakin menyombongkan diri, semakin gak peduli dan peka dengan orang lain.

Ini sebuah refleksi pribadiku, yang kualami sendiri. Terkadang ku merasa bahwa dulu hidupku itu benar – benar terbuka dan mau bergaul, gak pernah sombong dan lain – lainnya. Tapi semakin ku memperoleh prestasi yang baik, aku malah menjadikan itu sebagai sebuah kesombongan yang ‘patut’ ku sombongkan. Bahkan ketika saat itu, kita hanya baru naik satu anak tangga.

Bukan Cuma di perkuliahan, dalam pelayananku juga ku merasa menjadi seperti batu sandungan. Hidup seolah hidupku ini bukan Kristus lagi didalamnya. Tujuanku benar, motivasi awal ku benar, tapi semakin hari kesini, semakin berubah motivasiku, bukan lagi untuk kemuliaan Tuhan. Ijinkan aku menyebut itu sebagai sebuah kesombongan rohani. Ketika aku banyak belajar tentang doktrin dan alkitab, aku sadar aku semakin banyak tahu DAN aku malah semakin menyombongkan diriku. Menjadi ‘ahli taurat dan orang-orang farisi’ jaman kini. Lantas, apa sih yang harus kulakukan?

Aku merefleksikan itu sendiri dan menjadi muak dengan diriku yang sekarang (diri yang sombong). Terkadang terlintas dipikiranku mending aku tetap menjadi aku yang gak tahu apa – apa dulu, agar ku tetap rendah hati saja. Tidak seperti sekarang. Akhirnya, sekarang kusadar, bukan itu masalahnya. Tapi, kerinduan kita belajar dan mengenal DIA lewat firmanNya, berbuahkan buah yang baik antara relasi kita dengan sesama. Belajar sebanyak – banyak nya dan cukup mengeluarkan sedikit saja asal sesuai konteks dan tepat. Seperti seorang guru yang sudah master science, saat dia mengajari anak SD, dia mengikuti / mengimbangi proporsi belajarnya anak SD. Tidak mungkin dia mengeluarkan dan menularkan semua ilmunya pada anak SD yang di ajari itu. Seorang bayi haruslah makan bubur tetapi tidak normal bagi seorang dewasa yang hingga kini masih minum ASI.

So, lakukanlah dan bertindaklah dengan tepat, pada waktu yang tepat. Jangan pernah bertindak bodoh di waktu yang gak tepat pula

“orang yang benar – benar mabuk gak akan sadar kalau dia sedang mabuk. Tetapi orang yang setengah mabuk dia sadar dia sedang mabuk. Orang yang bener – bener sombong gak akan sadar kalau dia itu sombong. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s