Someone who teach us about ………*everything*

Kamis. Hari yang begitu sibuk, dimulai dengan kegiatan pembinaan astor, praktikum, kuliah dan terakhir fellowship bersama rekan – rekan pelayanan Mahasiswa. Sunguuh hari yang luar biasa. Bahkan ketika selesai semua kegiatan ini, kami makan bersama dan akhirnya aku ada di dalam ruangan kecil ini. Ya, itu kamarku. Selalu saja inspirasi untuk blogging datangnya tiap kamis malam saat aku benar – benar capek dan harus persiapan lagi untuk besok tutorial etika.

Tapi, aku berusaha untuk tetap menuliskan hal ini, dikarenakan aku yakin, lewat tulisan / sharing singkatku ini, banyak orang akan terberkati.

Malam ini, aku fellowship di PP (Persekutuan Pelayan Pelayanan Mahasiswa), dan jenis kegiatannya adalah fellowship bidang. Kami ber-PA, yang dibawakan oleh rekan kami, jiejie Merlin. Bagian Alkitab yang kami baca saat itu adalah dari Surat Paulus untuk Filemon. Ya, aku memang datang terlambat dan ketinggalan beberapa di bagian awal. Tapi, aku dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa, kita harus memiliki kasih ( 1kor 13). Paulus walaupun di dalam penjara, dia masih tetap mau memberikan teladan kasih bagi Filemon, sebagai anak rohaninya. Onesimus yang saat itu didapatkan Paulus saat dia sedang berada di penjara. Onesimus adalah ‘budak’ dari Filemon. Menurut tradisi saat itu, Budak itu berupa aset yang berharga. Maksud dari surat Paulus untuk Filemon ini sebenarnya lebih kearah dia ingin memberi teladan untuk Filemon untuk menerima Onesimus. Paulus tidak memanfaatkan kerasulannya (jabatannya) untuk memanfaatkan otoritas kerasulannya. Tetapi dia justru merendahkan diri dan memohon atas nama Onesimus.  Teladan yang diberikan oleh Paulus ini sangatlah baik sekali dan patut kita tiru, dimana sama sekali tidak memanfaatkan jabatan, tapi jadi teladan dengan merendahkan dirinya.

Di akhir dari fellowship ini, kami berkumpul lagi dengan teman – teman bidang yang lainnya. Disana, kami berlatih menyanyikan lagu “beauty for brokeness” bersama – sama untuk dinyanyikan minggu depan untuk kak Wanto, kakak pembimbing kami yang akan melanjutkan tugas nya / pelayanannya ke tempat yang lain yang telah Tuhan sediakan.

Harus ku akui, aku memang tidak terlalu dekat dengan kak wanto, tapi kak wanto begitu banyak memberiku teladan. Seorang ayah yang terlihat begitu mencintai anak – anaknya, seorang kakak yang mengajarkanku untuk mencintai dan membangun daerah ku berasal, mencintai asal usul kita, seorang teman yang baik untu mendengar keluhan tentang ‘Pasangan Hidup’. Bukan hanya itu, dan terlebih kak wanto, membukakan mataku lagi untuk melihat orang – orang disekitar kita, selama ini kita terlalu pentingkan jiwa, tidak melihat ‘perut’ mereka yang menangis kelaparan. Tidak melihat bagaimana mereka dapat sekolah dan perjuangan mereka untuk bisa belajar. Ya, integrasi iman ilmu benar – benar aku dapat dan sadar ketika bersama kak wanto, saat dibimbing oleh camp – camp maupun berbagai pertemuan yang ada.

Kak wanto, orang yang selalu menyiapkan telinganya untuk mendengarkan ceritaku, masalahku, dan memberiku kekuatan dalam Kristus. Kak Wanto, seorang muda yang punya hati untuk melihat orang lain disekitar kita. Matanya begitu jeli untuk melihat hal – hal demikian. Semangat hidupnya kak wanto, sangat kukagumi.

Aku teringat khotbah / sharingnya kak wanto ketika ada acara “Pray for Nation” (berdoa untuk indonesia timur), disitu aku tersadar bahwa selama ini, aku hanya orang yang melihat kedepan, tidak ke samping, tidak lihat skelilingku. Aku bahkan jadi orang yang begitu cuek dengan keadaan yang terjadi di daerah sekitarku, terkhusus di Ambon. Padahal aku bisa melakukan lebih untuk Ambon, tapi tidak kulakukan. Bahkan mendoakan kota kecilkku itu saja gak pernah kulakukan. L

Sosok kakak yang ceria, sosok kakak yang di tiap khotbahnya selalu ada tawa, sosok kakak yang begitu mengasihi kami semua. Dan bahkan air mataku menetes saat menuliskan ini. Semangat integrasi iman ilmu, semangat kegerakan. Movement not monumen.

Minggu depan akan ada acara perpisahan. Kami yakin, aku yakin, kita semua yakin, Ladang baru yang akan kak wanto garap ini adalah ladang yang disediakan Tuhan. Disana, ada banyak orang yang butuh kasih Tuhan, butuh Pertolongan Tuhan, dan niscaya lewat kak Wanto, mereka dapat mengenal Kristus. Inilah passion yang kak Wanto punya, inilah Tujuan yang Tuhan beri untuk kak wanto. Semangat kakak untuk tugas dan pelayanannya di ladang yang baru, terima kasih juga sudah begitu setia membimbing kami yang nakal – nakal ini, terima kasih sudah memberi kami semangat dan membukakan mata kami untuk melihat orang – orang disekitar kami.

Satu lagu yang begitu menceritakan semangatnya kak wanto untuk I3 (integrasi iman ilmu) -> “Beauty for brokeness”

……………………..

Lord, in Your suffering

This is our prayer

Bread for the children

Justice, joy , peace

Sunrise to sunset

Your kingdom increase

…..

God of the poor

Friend of the weak

Give us compassion we pray

Melt our cold hearts

Let tears fall like rain

Come, change our love

From a spark to a flame.

“kak wanto, memang saya ga bisa menulis seindah tulisan – tulisan kakak di jurnal discerning, tapi ini tulisan yang kubuat sepenuh hati. “

Tuhan Yesus berkati kakak dan sekeluarga untuk tugas dan pelayanan ini ({})

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s