We are Part and Parcel of Indonesia

Hari ini indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Seluruh siswa – siswi merayakannya dengan upacara bendera di sekolahnya masing – masing dan diakhiri dengan makan bersama dan kegiatan porseni lainnya di sekolah mereka. Begitu pula, dengan mahasiswa baru UK Petra, Surabaya. di Pagi buta, mereka sudah harus bersiap diri untuk mengikuti upacara hari kemerdekaan di lapangan besar yang terletak disamping sebuah apartment. Saya hanya mendampingi mereka lewat BBM di pagi hari itu, dan mereka mengeluh untuk terlibat dalam kegiatan – kegiatan ‘rutinitas’ seperti ini. Ntah apa sebabnya, dan hati saya pun bergetar dan menyesal karena tahun kemarin itulah, kesempatan terakhir saya mengukuti upacara bendera.

Memang ada kesempatan untuk mengikuti upacara di tahun ini, tetapi saya lebih memilih tetap berada di bawah atap rumah dan berdiam diri.

Kunyalakan siara di televisi dan saya kurang ‘srek’ dengan semua siaran TV yang menayangkan tentang kemerdekaan, pahlawan, sejarah Indonesia, dan lain sebagainya. Bukan karena saya, tidak suka melihat tayangan seperti itu. Tetapi rasanya miris sekali, mereka seolah – olah memperdulikan bangsa ini, “apakah sudah benar – benar merdeka dari segala aspek?” hanya disaat moment 17an seperti ini. Turun ke beberapa desa, dan mewawancarai pahlawan yang dulu pernah berjuang untuk bangsa ini, hanya di hari ke-17 bulan agustus ini. Mengapa tidak setiap hari, mereka melihat hal – hal seperti ini?

Bangsa kita terlalu fokus dengan masalah – masalah perorangan yang merugikan banyak pihak dan fokus mereka benar – benar tertuju pada orang tersebut. Seperti korupsi dan lain sebagainya. Tapi mereka tidak benar – benar menyoroti kehidupan di luar dari ibukota –memang ada, tapi jarang sekali-. Fine, saya bukanlah anak yang sudah belajar ilmu – ilmu jurnalistik dan segala macamnya itu secara mendalam, tentang topik – topik apa yang harus ditayangkan, tapi inilah pemikiran saya, orang awam dan mungkin juga pemikiran banyak orang lain diluar sana.

Indonesia Merdeka?

Saya mempunyai alasan yang jelas untuk menuliskan perikop tersebut dengan diakhiri oleh tanda tanya. Merdeka berarti benar – benar terlepas dari penjajahan. Penjajahan yang seperti apa? Apa sama seperti penjajahan 67 tahun yang lalu? Dan haruskah ada yang bangkit berperang melawan penjajah? Saya pikir bukan seperti demikian. Penjajah yang ada pada zaman modern ini adalah penjajah yang menjajah diri kita sendiri. Sebernanya kita masing – masing harus bangkit berperang melawan diri kita sendiri. Contoh nyatanya seperti korupsi, seharusnya kita harus melawan penjajah yang ada dalam diri kita ini yang mendorong kita untuk mengambil uang rakyat.  Bukan hanya itu, banyak aspek yang mendukung kalau negara kita ini sebenarnya belum benar – benar merdeka. Lihat saja, masih banyak penebangan liar. Tidakkah mereka berpikir bagaiaman kehidupan anak cucu kita nanti?

Saya tidak ingin terlalu concern di bagian korupsi atau masalah – masalah yang ada pada pejabat kita, atau orang yang lebih tua, saya ingin lebih fokus untuk anak – anak. Karena bagi saya, jika mulai hari ini, sekarang ini kita mendidik generasi muda sekarang dengan baik, penuh integritas, mereka pasti suatu saat akan mengubah kembali wajah Indonesia yang mulai buruk ini.

Mereka saudara kita

Menulis part ini, saya harus meneteskan air mata. Ntah mengapa, tapi inilah yang terjadi. Saya begitu terharu jika melihat masih banyak orang yang tidak bisa sekolah di luar sana, dan harus bekerja untuk mencari nafkah. Padahal, itu bukanlah tugas utama mereka saat ini. Bukan hanya itu, masih banyak yang ada di luar sana, dari sabang sampai merauke, masih banyak anak – anak yang sangat ingin sekali untuk bersekolah, tiap hari mereka datang ke sekolah, gubuk kecil yang digunakan berganti – gantian untuk setiap tingkatan kelas yang berbeda. Mungkin kalian akan tersenyum melihat mereka berlari tanpa alas kaki, dengan semangat secepat mungkin ke sekolah. Tapi, senyum itu akan pudar dan meyayat kesakitan saat melihat kekecewaan mereka, tidak ada lagi guru yang mau mengajar di sekolah hari ini. Hal ini saya hayati dan saya amati dari siaran – siaran di telivisi ataupun beberapa film Indonesia yang mengungkapkan hal ini.

Dan apa yang kita lakukan sekarang? Bukankah kita sudah bisa menikmati sekolah dengan mudah nya? Berpindah – pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya karena kita di DROP OUT akibat kenakalan kita? Tidakkah sedikit saja, hati kita tersentak oleh realita yang ada di luar sana?

Ada seorang dosen yang tak perlu saya sebut siapa namanya, melihat hal ini sebagai sebuah tanggung jawabnya. Dan beliau benar – benar mengabdikan diri di sebuah pedalaman Indonesia Timur. Tanpa sebuah paksaan dan rela meninggalkan seluruh karirnya di tempat asalnya. Ya…. mungkin alasan yang paling sering dikatakan oleh kalian adalah “..ini bukan passionku”, dan saya pun harus memaklumi hal itu. Tapi teman – teman (saya menyebut anda teman, karena memang kita adalah teman segenerasi yang harusnya bersama – sama berjuang memajukan bangsa ini), masih banyak hal kecil yang bisa teman – teman lakukan dimulai dari diri sendiri. Teman – teman bisa belajar giat,mensyukuri kehidupan yang telah Tuhan beri dan jika teman – teman berniat, masih banyak sekolah – sekolah atau anak – anak disekitar anda yang membutuhkan uluran tangan anda. Ada sebuah ilustrasi yang sangat saya sukai, jika seseorang meminta ikan? Jangan pernah memberi dia ikan ataupun uang untuk membelinya, tetapi berilah dia pancing untuk bekerja mencari ikan. Dan hal inilah yang harus kita lakukan, PEMBERDAYAAN masyarakat.

Banyak realita yang tak bisa saya pungkiri bahkan disetiap aspek kehidupan ini. Dan perubahan itu bisa dimulai dari diri teman – teman sendiri. Menurut J.E. Sahetapy di dalam makalah yang ditulisnya tentang “Yesus dan Politik” dan dibahas pada tanggal 30 Juli 2012 di UTC, Trawas saat kegiataan Christian Student Ministry Camp, UK Petra, menuliskan bahwa “kita adalah orang Indonesia, adalah warga negara Indonesia (lahir sebelum dan) sesudah Proklamasi RI. Jadi kita sebagai pengikuti (murid) Kristus, bukan orang – orang ‘in de kost’. Kita adalah ‘part and parcel’ dari bangsa dan negara ini…..”.

Saya mungkin tidak akan meminta teman – teman satu per satu untuk ikut serta dalam bagian “Indonesia mengajar”, tetapi yang saya inginkan dan yang paling bisa kita lakukan adalah, mari kita hargai apa yang telah Tuhan beri bagi kita sekarang ini. Hargai kesempatan dimana kita masih bisa memakai seragam putih – merah, putih – biru, putih – abu-abu atau bahkan memakai jas almamater di sebuah universitas. Jangan sia – siakan kesempatan ini. Dan mari kita doakan mereka, doakan seluruh anak di bangsa ini.

Rasa nasionalisme kita harus kita tingkatkan, dan tak ada yang mustahil. Jika memang kalian punya passion tersendiri, jadikan passion itu juga sebagai berkat untuk orang lain. Ajarilah mereka yang membutuhkan pengajaran, lindungilah mereka yang membutuhkan perlindungan, dan jadikan mereka SAUDARA kita.

Mengubah Indonesia bukanlah sebuah hal yang sulit, jika itu dimulai dari MENGUBAH DIRI KITA SENDIRI. Peduli sesama dan jagalah Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s