Sudahkah kita … ?

Indonesia terlalu sering mengurusi urusan-urusan korupsi, kejahatan atau tindak kekerasan lainnya.  Sehingga, mereka melupakan satu masalah yang sangat penting dan menyankut nasib bangsa kedepannya, yaitu: Pendidikan.  Pendidikan adalah satu masalah yang sangat krusial bagi bangsa ini. Hal ini dikarenakan, tongkat ekstafet bangsa ini kedepan ada ditangan generasi muda sekarang. Bagaimana jika generasi muda sekarang tidak dapat mengenyam pendidikan dengan baik? hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Kegiataan Youth Caring Movement yang diadakan oleh BEM Universitas Kristen Petra, Ubaya dan UPH Surabaya ini mencoba untuk menjawab tantangan ini. “start from us”  adalah salah satu step awal dari kegiatan Indonesia mengajar. Disini setiap mahasiswa yang mempunyai hati untuk mengabdikan dirinya sepersekian jam untuk mengajari generasi bangsa berikutnya mulai berkumpul. Progam yang dijalankan lebih kurang 3 bulan ini diadakan di SD Dumas, Surabaya.

Sekolah ini tidak seperti sekolah – sekolah lainnya. Walaupun berada di tengah kota besar kedua di Indonesia, tapi keadaan SD ini malah sebaliknya. Ruangan yang kecil, peralatan seadanya, perpustakaan sekolah yang sedikit sekali memiliki koleksi buku bahkan UKS yang sama sekali tidak layak disebut UKS (sorry to say that). Ini realita.

Oleh karena itu, disanalah saya berada sekarang. Minggu pagi yang cerah membawa saya menuju Jalan Jepara 3, Kota Surabaya ini. Semangat pagi untuk mulai berbagai ilmu yang saya punya.  Adalah anak bernama Christina. Anak yang duduk di bangku kelas 5 SD ini adalah anak kedua dari 3 orang bersaudara ini harus berjalan jauh untuk sampai ke sekolahnya. Dan bersama dia saya berada sekarang. Saya mengajarinya dengan sabar dan tekun. Menjelaskan cara mengubah pecahan campuran, dan sebagainya. Miris, mereka terkesan menghafal. Mereka tahu metode mengubah pecahan ke bilangan desimal, tapi mereka ‘terkadang’ tidak tahu, bagaimana cara nya mencari pembagian bersisa. Inikah pendidikan di Indonesia? Pemerintah hanya sibuk membiayai dan memberi sekolah gratis (yang terkadang tidak semua sekolah SD-SMP bisa bersekolah gratis, tetap ada pungutan-pungutan liar) bagi rakyat. Tapi sudahkah pemerintah melihat KUALITAS Tiap sekolah yang di bangun di atas tanah negera kita tercinta ini?

Jauh dari hanya sekedar mengkritik pemerintah, untuk itulah kami ada disini. Kehidupan mereka yang bisa memberi teladan bagi kita semua. Tetap mau belajar walau di hari libur, tetap bersekolah walau dengan keadaan sekolah yang ‘kurang’ memungkinkan atau tetap bersemangat menuntut ilmu walau harus berjalan kaki dari rumah mereka yang sangat jauh dari sekolah.

Lihat lagi ke diri kita semua? Fasilitas sekolah (bahkan fasilitas SD sekarang) sudah seperti fasilitas di sebuah kampus pada umumnya. Memiliki pendingin ruangan, proyektor, loket pribadi, Ruang belajar yang ‘wah’, Papan tulis Whiteboard (bukan lagi Blackboard) dan semua fasilitas yang ‘jauh’ memadai untuk sebuah SD. Tapi, apa saat itu (dengan semua fasilitas ini) kita sudah maksimal dalam menuntut ilmu?? Terkadang kita mengeluh dan enggan pergi ke sekolah karena tidak ada yang mengantar, atau ketika mobil ayah sedang di bengkel. Tapi, lihat mereka? berjalan kaki pun mereka tempuh demi menuntut ilmu 6 jam x 6 hari di sekolah.

Kita, yang dibiayai untuk ikut segala macam kursus tambahan, mulai dari kursus bahasa inggris, matematika, IPA, dll tapi terkadang ogaaah- ogah bahkan uring-uringan saat guru kursus kita datang ke rumah. Terlebih, kita bahkan sering bolos dan pura-pura sakit agar tidak bisa mengikuti kursus pada hari itu. Tapi lihat mereka, teman-teman kita di SD Dumas tetap semangat datang pada hari libur (berjalan jauh lagi) agar bisa diberi pelajaran tambahan oleh mahasiswa-mahasiswa yang peduli pada mereka. Semangat belajar yang mereka punya patut kita contohi.

Semua hal ini patutu kita renungkan…. Sudahkah kita memaksimalkan semua yang dapat kita kecap sekarang? Sudahkah kita belajar menuntut ilmu dengan benar dan sungguh-sungguh. DAN terlebih, sudahkan kita mengucap syukur untuk apa yang kita dapat sekarang? Renungkanlah… Semua jawabannya ada pada diri kalian masing-masing.

Ingat, di luar sana, masih banyak mereka yang nasibnya tidak seperti kita. masih banyak mereka yang harus berjuang keras bahkan bekerja di usia dini untuk membiayai ‘pungutan liar’ agar mereka bisa bersekolah.

SD Dumas, Surabaya ini masih menjadi sebuah cerminan yang sangat kecil dari bangsa kita yang sebenarnya. Masih banyak sekolah-sekolah lain yang sangat membutuhkan. SD Dumas hari ini mengajari kita banyak hal yang berharga.

Semoga kita semua bisa lebih bersyukur, tidak mengeluh dan selalu menghargai tiap pemberian Tuhan bagi kita. Tuhan memberkati kita semua.

“Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.” (Matius 5:3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s