Bukan Hidup Untuk Berjuang, Tetapi Berjuanglah Untuk Hidup

share : Bukan Hidup Untuk Berjuang, Tetapi Berjuanglah Untuk Hidup

Seringkali kita mengeluh ini itu, mengeluh karena gagal, mengeluh karena sakit, mengeluh karena dilanda musibah. Mengeluh dan mengeluh. Entah berapa banyak kita telah mengeluh, bahkan ada juga orang yang ingin mengakhiri hidupnya dikarenakan tidak kuat menahan beban kehidupan yang sulit.

Betapa buruknya kita yang mengeluh itu apabila kita mengetahui. Alam semesta ini memiliki hukum-hukum yang mengaturnya, sehingga terciptalah keseimbangan dijagad raya yang luar biasa. Puncak keseimbangan itu telah membuat kita berada didunia. Kehidupan ini muncul dari perhitungan rumit sesuatu yang kompleks dan menakjubkan. Bayangkan saja peluang untuk terbentuknya alam semesta yang membentuk kehidupan ini menurut Penrose, seorang ahli probabilitas adalah 1:10^10^123 (10 pangkat 10 dipangkatkan kembali 123) sebuah angka peluang yang kecil sekali dan sangat sulit dijabarkan, bahkan melampaui 10^50 (probabilitas nol/mustahil terjadi karena kebetulan).

Kehidupan ini adalah sebuah proses. Butuh waktu yang lama untuk menciptakan sebuah kehidupan. Misalnya saja, butuh proses yang panjang selama 9 bulan untuk menunggu kita dapat terlahir ke dunia. Butuh kerja keras dan pengorbanan orang tua sehingga kita dapat muncul dan hidup didunia ini. Hidup ini adalah sebuah keajaiban yang patut kita syukuri. Hasil dari perjuangan kita dari sebuah titik sperma dan pengorbanan bertriliun-triliun kehidupan sebelumnya – perjuangan orang tua kita, nenek kakek kita, kakek buyut kita dan seterusnya sampai satu titik awal yang mengawali semuanya yang kita sebut dengan Tuhan.

Apakah kita tidak menyadari bahwa betapa berharganya sebuah kehidupan yang kita rasakan ini?. Apakah kita ini makhluk hina yang mengeluh dan tidak pernah menyadari bahwa lahirnya kita, hidupnya kita adalah sebuah anugrah yang tidak dapat dibayar dengan apapun?

Bandingkan ukuran tubuh anda dengan pulau tempat keberadaan anda. Sangat kecil bukan?. Bandingkan lagi pulau tempat tinggal anda dengan benua dimana pulau itu berada, dengan planet bumi, dengan matahari, dengan galaksi bimasakti terus sampai dengan jagad raya. Lihat dan sadarilah disekeliling anda dan rasakan bahwa betapa kecilnya kita dan segala kehidupan ini apabila dibandingkan dengan jagad raya, bahwa betapa sebentarnya umur kehidupan kita apabila dibandingkan dengan umur jagad raya ini. Maka betapa berhargalah dan bernilailah sebuah kehidupan kecil yang anda rasakan itu. Janganlah sekali-kali anda sia-siakan kehidupan itu. Nikmati dan syukurilah semua anugerah yang kita miliki ini.

Lalu apa hubungannya sebuah kehidupan luar biasa itu dengan penderitaan, kekecewaan dan segala permasalahan yang kita hadapi ?. Bukankah lebih baik tidak pernah merasakan hidup dan merasakan segala penderitaan itu?.

Berpikirlah positif kawan. Tuhan, sang orangtua dari segala orangtua yang menciptakan kita tentu sangat menyayangi kita sebagai makhluk hasil ciptaanya. Seorang orang tua tentu akan menyayangi anak-anaknya. Hal ini bukan berarti kita tidak akan mengalami tragedi, namun rasakanlah dan pelajarilah apa yang berada di balik semua itu. Carilah pelajaran dan keuntungan dari semua keadaan yang tidak menguntungkan itu. Sudut pandang inilah yang mampu membuat kita dapat melewati semua krisis dan merubahnya menjadi kesempatan didalam jalan kehidupan kita. Berpikir positif akan mengaktifkan gen-gen (informasi dasar didalam tubuh kita) untuk menciptakan keadaan yang baik bagi tubuh kita. Mengaktifkan sel-sel otak dan tubuh untuk menghasilkan hormon-hormon yang bermanfaat.

Prinsip dualitas (keberpasangan) bekerja untuk segalanya. Ada depan-belakang, siang-malam, kekuatan-kelemahan dan sebagainya. Tak peduli betapa segala sesuatu timpang, tak perduli segala sesuatu akan berakhir, akan selalu ada ruang untuk memilih. Pertahankanlah sudut pandang yang positif. “Tuhan akan sesuai dengan apa yang kita pikirkan”. Maha pertahankalah dan berjuanglah selalu untuk selalu dalam keadaan positif.

Belajar dari Thomas Alva Edison, Ia menghabiskan uang 40.000 dolar dalam waktu 2 tahun dan 6000 bahan yang telah diuji. Ia menggabungkan 3000 teori yang telah ada dan meringkasnya menjadi 2 teori saja. Dan akhirnya, setelah menemui kegagalan sebanyak 8889 kali, pada tanggal 21 Oktober 1879, lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Di tahun 1882, Edison memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan, dan rumah-rumah sejauh 1 km di kota Newyork. Hal ini pertama kalinya di dunia, jalan-jalan diterangi oleh cemerlangnya cahaya lampu dan manfaat yang kita tidak dapat hitung saking banyaknya.

Maka berjuanglah kawan, raihlah kemenangan yang ditawarkan Tuhan di akhir jalan hidup kita kelak. Raihlah keabadian dan keindahan itu. Syukuri kehidupan ini dengan menjalaninya. Mari kita berjuang dan berkorban bersama-sama untuk memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya. Semua itu untuk kita semua masing-masing. Karena Tuhan tentu tidak akan menyia-nyiakan segala kebaikan yang telah kita lakukan. Menabung untuk akhirat. Menabung untuk masa depan. Jangan sia-siakan perjuangan kehidupan sebelumnya para leluhur kita yang telah berjuang sehingga kita ada untuk saat ini didunia. Mari kita lanjutkan…

Reverensi:

Kazuo Murakami : The Divine Message of The DNA – Tuhan dalam Gen Kita.

Wikipedia: Biografi Thomas Alva Edison

sumber: netsains.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s