Hati dan Perasaan

Ceritaku ini berawa; dari aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Dulu aku lugu dan polos bagai kertas putih yang belum dicoret. Perubahan zaman dan waktu mendesakku ‘tuk berubah, walau aku belum sematang yang kau dan dia inginkan aku mulai berubah…hingga banyak orang tak lagi mengenaliku. Tapi, biar sebesar apa pun ku berubah, aku masih tetap yang dulu. Sesosok probadi yang disegani banyak orang. Cukup lama waktuku untuk beradaptasi dengan keadaan baru ini.
Hari demi hari terus kulewati dengan air mata dan senyum yang manja. Aku mulai melihat sesuatu yang beda dalam diriku dan teman-temanku. Ternyata kita sudah mulai menginjakan kaki pada tahap keremajaan. Diantara semua teman-temanku, aku bukanlah yang paling muda, tapi mereka selalu katakana “Kamu kayak anak kecil”. Walaupun demikian aku adalah orang pertama yang mulai tuk jatuh cinta. Mungkin mereka tak tahu isi hatiku. Aku sangat kecewa. Aku selalu merasa dikucilkan. Tapi, aku tak boleh patah semangat – Aku harus bangkit!
Hari…minggu…bahkan bulan, tlah kita lalui bersama-sama. Mungkin tak ada yang tahu, dibalik senyumku ada kesedihan dan dibalik tawaku ada air mata. Aku mulai beranjak remaja, tapi kelakuanku yang lugu dan polos belum bisa juga berubah.
Kini kertas putih itu telah dicoret. Aku dan teman lawan jenisku mulai jatuh cinta. Dan kita pun memutuskan tuk bersama. Namun janji manisnya hanya seperti kata pepatah “Habis manis sepah dibuang”. Sudahlah, aku anggap itu Cuma manis pahitnya hidup ini, yang mau tak mau harus kujalani. Biarpun aku menerima itu semua, tapi hatiku tak sanggup untuk menahan tangis.
Lama-kelamaan, aku mulai mengetahui arti cinta itu. Yang kadang bisa tuk disakiti dan kadang bisa untuk kita sakiti. Perasaanku hancur saat ada yang menyakitiku. Hatiku menangis disaat ada yang mengejekku.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku mulai senang kembali. Pikirku, “untuk apa aku berlarut-larut dalam kesedihan, hidup ini akan terus berputar, susah dan senang akan datang silih berganti”. Dengan tekad dan semangat itulah, aku bangkit kembali dan melanjutkan hidupku.
Tak ama kemudian, aku mulai merasakan sesuatu yang baru. Aku mencoba tuk menerima dia dan menyayangi dia serta berharap dia akan membawaku dalam kesenangan bukan air mata.
Suatu ketika aku bertemu dengan dia, ku berharap ini pertemuanku dengan dia yang paling indah. Namun, keindahan sesaat itu berubah menjadi kesedihan yang berkepanjangan. Untuk kedua kalinya aku disakiti. Tak kebayang rasa sakit yang selalu menghantuiku. Rasanya aku tak mau lagi jatuh cinta, karena itu hanya dapat menyakitiku. Tapi aku harus ingat sepotong kalimat yang pernah aku ucapkan yang memotivasi diriku untuk bangkit lagi. Mungkin ini adalah pengkhianatan yang sulit untuk diterima. Tapi aku tak boleh terjebak dalam lubang ini, aku harus lari keluar dari lubang yang dalam ini.
Embun pagi yang masih membasahi dedaunan palma, masih teringat aku pada pengkhianatan pahitku. Tiba-tiba ada suara yang berkata memanggil namaku. Aku terdiam sejenak, tapi suara itu tak berhenti memanggil namaku. Terkejut, itu reaksi pertamaku. Ketika kuhadapkan wajahku menatap dia, aku serasa tak bernafas sesaat. Sejak saat itulah aku dan dia bersatu. Awalnya dia baik dan nunjukin perhatian yang lebih padaku. Padahal rasa itu tak lebih cepat dan tak lebih lambat dari sejam lamanya. Rasa itu pun memudar dari pukul 12.00 hingga 13.00, begitu cepat waktu kita untuk saling mengenal tetapi lambat juga waktu untuk mencintai dia. Dan ini untuk ketiga kalinya kau disakiti.
Tak kebayang perasaanku, tak kebayanng rasa sakitku, Karena Aku, kau dan dia yang tak pantas untuk saling menyatu. Mungkin ini pengalaman cintaku yang paling buruk dan mungkin ini terakhir kali aku jatuh cinta. Karena terlalu sering aku disakiti.
Tak terasa…telah satu minggu kulewati degan kesendirian ini, hanya satu yang selalu kupunya dan kujaga HATI dan PERASAAN.
Bumi telah lama berputar, matahari masih setia menyinari bumi dan bintang pun masih siap untuk menerangi indahnya malam. Aku mulai lupakan kejadian pahit itu. Tapi…sepertinya dunia yak menginginkanku aku tuk bahagia. Baru saja kehilangan semua kenangan pahit itu, muncul lagi seseorang yang memujaku. Aku hanya dapat tersenyum dan berharap aku tak jatuh lagi dalam cinta sesaat ini. Awalnya dia pemalu, baik dan penyayang sepertu yang aku inginkan. Namun, ku harus hilangkan semua perasaan ini. Ingat! Aku sudah tiga kali dipermainkan oleh cinta dan dikhianati dan ini tak boleh terulang kembali.
Apalah daya diriku, aku hanya seorang gadis lugu yang baru mengenal dan belum mengerti arti cinta. Dikhianati dan disakiti, mungkin itu adalah kata-kata pertama dan kata-kata terbanyak dalam kamus cintaku. Sudahlah biarkan ini semua sirna begitu saja, seiring terbenamnya mentari di sore hari begitu juga terbenamlah seluruh cintaku padanya.
Jam dinding di rumahku telah bordering untuk kesekian kalinya. Namun aku belum juga melupakan dia. Kini dia kembali lagi dengan seribu satu puisi, seribu satu bunga dan segudang cinta yang telah siap untuk diberikan padaku.
Ya, jikalau aku memang menginginkan dia. Tapi tidak, jika aku memang tak suka padanya.
Itulah kedua pilihan yang harus kupilih. Inginku katakana yam karena memang aku menginginkan dia. Tapi, aku juga ingin katakana tidak, karena aku takut disakiti untuk kesekian kalinya. Namun, aku tak butuhkan puisi dan bunga itu, aku hanya ingin disayangi dan dicintai bukan untuk dipermainkan.
Kembali lagu ku dengar untuk keempat kalinya, kata-kata manis dan janji setia yang diucapkan dari bibir yang berdosa.
Tegar!! Itulah tekadku. Aku harus tegar dan jangan mempercayai kata-katanya.
Malam telah bergantu pagi dan pagi telag berganti siang, begitu juga siang telah berganti sore dan semuanya itu selalu datang silih berganti.
Lama-kelamaan aku mulai tuk menerima dia. Begitu jua dia mencoba tuk menerima aku apa adanya. Dan kita pun mencoba tuk membuka lembaran baru, yang dimulai dengan keceriaan dan mungkin akan diakhiri dengan perpisahan.
Bukan namanya pertemua kalau tak ada perpisahan. Sudah lima kali aku membuka kalender di dinding rumahku. Itu berarti telah lima bulan juga kita bersama. Ternyata kisahku kali ini tak buruk, tapi tak seburuk yang pertama.
Belum genap setengah tahun, waktu kembali memisahkan kita. Ingin aku putar kembali waktuku bersama dia, namun itu hanya khayalanku. Kini aku harus kembai berpisah dengan dia. Tembok sekolahku telah menjadi saksi bisu percintaan ini, mata dan otak ini telah merekam seluruh kejadian memilukan itu d….a….n… bibir ini telah menjadi alat untuk mengungkapkan hati dan perasaan ini. “ I LOVE U FOREVER”. Itulah kata terakhir yang dia ucapkan untukku. Pengalaman cinta ini selalu membekas di hatiku, dan mungkin dihatimu dan di hati dia juga.

Pertama kali ditulis Tanggal 6 Juni 2007. Dan telah mengalami revisi kira-kira 2 kali. Berdasarkan kisah nyata pengalamanku dan sedikir khayalan dariku.

4 thoughts on “Hati dan Perasaan

  1. cieeee…cieeee….
    suuuuit..suiit!!!!

    yang mengalami jatuh cinta dan dipasahkan oleh tembok ni yeeee…..

    saya..sebagai teman yang baik..tetap mensupport anda..
    maju terus, pantang mundur!!! :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s