LCC UUD 1945 dan TAP MPR

Lomba Cerdas cermat Undang-Undang dasar 1945 dan Ketetapan MPR dimulai kembali di tahun 2010. Banyak sekolah yang sudah mulai mempersiapkan dirinya berbulan-bulan yang lalu. Tetapi kami SMA Negeri 1 Ambon hanya mempersiapkan diri tidak lebih dari sehari.

Hari itu, 9 February 2010, kami (Ria, Natalia, Stazia, Agnes, Muzdalifah, Yoan, Silvya dan Tycia) diberitahukan oleh pak Jhon bahwa kami harus mengikuti LCC tahun 2010 dan lebih gawatnya lagi, Lomba tersebut sudah dilaksanakan di hari esok. Kami panik, tapi tetap berusaha tenang. Tak lama kemudian, datang 7 orang adik kelas yang baru, mereka adalah Leo, Eges, Lia, Ayu, Christy, Brenda dan Sheila. Sekarang jumlah kami adalah 15 orang. Kami mulai bersiap-siap, membagi meteri-materi yang harus dihafal tiap orang. Umumnya, Ria, Stazia, Agnes, Tycia dan Yoan tetap menghafal materi yang lama saat kita ikut LCC 2009, sedangkan yang lainnya diberikan materi yang baru. Kami masuk di Aula, dan siap menghafal. Tak lama kemudian, Pak Jhon memberitahukan kami bahwa kami harus segera di karantina di LPMP Poka hari itu juga. Betapa kagetnya kami saat harus mendengar hal tersebut. Tapi, kami hanya menerima dengan persiapan seadanya kami menuju LPMP kira-kira pukul 18.30 wit.

Sesampainya disana, kami mengira Audiensi oleh sekjen MPR telah dimulai, kami mulai takut, karena kami mengira besok lomba sudah dimulai. Kami menuju ruang makan dan menuju wisma anggrek tempat kami tinggal. Kami mendapat 4 buah kamar di lantai 3, yaitu kamar C-4 (Agnes, Ria, Yoan); C-15 (tazia, Natalia, No); C-16 (tycia dan Silvya) juga C-17 (Leo, Eges, Pak Jhon, Pak Eman). Setelah itu, kami segera menuju Aula untuk mengikuti acara pengarahan. Saat kami masuk, semua tempat duduk sudah terisi, tertinggal 15 kursi paling depan yang masih kosong. Kami menarik napas lega, Karena itu bukan acara audiensi, tetapi acara pengarahan dari pihak provinsi. Setelah selesai acara tersebut, kami berjalan menuju kamar-kamar kami yang jaraknya ± 1 km.

Kami dipanggil dan duduk berkumpul di Lobi Wisma Anggrek lantai 3. Disaat itu, Pak Eman dan pak Jhon, harus memilih 5 orang untuk dipulangkan, karena yang hanya 10 orang saja yang bisa mengikuti lomba. Dengan sangat terpaksa, 5 cewek dari kelas X harus dipulangkan, tinggal 2 cowok yang harus tetap mengikuti lomba.
Saat itu, kami bingung dengan materi-materi TAP MPR, karena kami tak pernah tahu tentang itu. Dulu itu adalah tugas kakak-kakak, tpi kini menjadi tugas kami. Dengan telekomunikasi kami mencoba menanyakan materi-materi TAP MPR yang belum kami mengerti. Selain itu juga kami mengirim pesan ke kakak-kakak yang bilang bahwa : “__________”

Rabu, 10 February 2010, kami mengikuti audiensi dari pagi hingga sore hari di Aula LPMP. Capek. Itulah yang kami rasakan. Tapi kami tetap bertahan dengan keadaan yang serba mendesak ini.
HIngga saat persiapan penarikan undian lomba, kami dikagetkan dengan jumlah sekolah yang melebihi kapasitas yang diminta, dimana hanya 18 sekolah yang diminta tetapi yang hadir ada 19 sekolah. Menurut Pak Yana Indrawan, akan ditambahkan satu lagi putaran di babak penyisihan dan semifinal dengan 2 sekolah diambil dari juara 2 terbaik. Perasaan kami mulai gelisah, tiba-tiba seorang siswa interupsi. Tak jelas apa yang dia bicarakan, tapi tak lama kemudian datang seorang guru dengan emosinya yang tinggi dan berbicara dengan sangat meyakinkan, bahwa : “Kami tidak setuju dengan ide bapak. Bapak sendiri yang menegaskan bahwa sekolah yang pernah ke tingkat nasional tidak boleh ikut tingkat provinsi lagi. Tapi, mengapa disini ada yang pernah ke tingkat nasional dan diperbolehkan ikut lagi? Seharusnya tidak usah ditambah satu kali perlombaan, tetapi pulangkan saja SMA Negeri 1 Ambon, karena mereka pernah ke tingkat nasional” Sungguh ucapan yang sangat luar biasa, kami ternganga dan tak mampu mengucap sepatah kata pun. Bersamaan dengan itu, semua peserta berteriak dan bertepuk tangan. “ya Tuhan, apa ini memang jalan yang terbaik bagi kami?” Tanya kami dalam hati. Kami mencoba ‘tuk tetap tenang. Pak yana melanjutkan pembicaraan, “Kami tidak pernah mengataka seperti demikian. Hanya saja yang tidak boleh ikut lagi adalah sekolah yang sudah masuk Grand Final, bukan yang pernah ke Jakarta. Intinya, kami tidak bertanggung jawab atas ini semua. Kami kembalikan ke Pihak Provinsi.” Kami masih terdiam dan mulai mengomel dalam hati hingga rasa itu tak tertahan lagi, kami meneteskan air mata. Air mata ini begitu sakit, begitu perih, tak karuan. Kami menelpon Ka TIka. Cuma satu pesan ka tika, Berserah pada Tuhan. Tiba-tiba semua guru disuruh berunding tentang nasib sekolah kami yang masih tanda Tanya (?) akan ikut atau tidak (pulang).
Kami tetap menangis, bukan karena kami cengeng. Tapi kami juga tidak berharap dan menyangka akan ikut lagi LCC tk. Provinsi tahun 2010. Bukan mau kami untuk ikut lagi, tapi ini perintah dari provinsi. Kami juga tak ada persiapan 0,001% pun. Benar-benar mendadak. Pak Eman datang dan Cuma bilang bagi kami, “Ayo kita pulang”. Huwaaaaa…….. seperti di dalam tubuh ini ada 10 hati yang saling tawuran. Kami mencoba tenang dan rendah hati. Kami melihat guru-guru sudah bubar dan saat itu kami dibilang boleh ikut lagi. “Thx God” ucap kami hampir bersamaan.
Saat undian kami mendapat nomor Undian 10 yang akan berlomba bersama SMA Langgur dan SMAN 7.
Sepulang dari Aula LPMP kami mandi dan bersiap lagi untuk belajar, latihan yel-yel, dsb. Semua kegiatan kami mulai dengan doa. Minta tuntunan Tuhan selalu. Malam harinya saat kami sedang belajar, terjadi pemadaman listrik di Asrama, tepatnya di LPMP. Kami tidak putus asa, bermodalkan penerangan di HP kami belajar, ada yang belajar di Kamar (Tazia, Natha, No, Tycia, Silvya, Ria, Yoan) dan ada yang belajar di Lobi lantai 3 (Agnes, Eges, dan Leo). Tak lama pak Eman membeli lilin dan memberikannya bagi kami untuk belajar. Tak kenal rasa kantuk, smua demi SMANSA, sekolah kami tercinta.

Seiring dengan terbitnya mentari, kami sudah mulai bersiap menuju Baileu Siwalima. Sebelumnya kami sudah mengatur strategi dan posisi duduk. Eges, Agnes, Leo paling depan, No, Ria, Tazia dan Natha di baris kedua dan Yoan, Silvya juga Tycia paling belakang. Dengan rasa deg-deg an yang luar biasa hebatnya kami meyakinkan diri kami, tentunya dengan pertolongan Tuhan selalu.
Ya-ya-ya-ya-ya, karena rasa takut dan katanya belum berpengalaman, eges meminta agar dia duduk di belakang saja. Dan akhirnya dia mengganti posisi Ria.
Di perlombaan penyisihan Pertama, SMAN 2 Kairatu keluar sebagai juara, sedangkan SMKN 2 Ambon menjuarai penyisihan kedua dan penyisihan 3 dimenangkan oleh SMA Siwalima Ambon.
Tiba giliran kami. Kami memberanikan diri untuk berlomba. Benar-benar keajaiban, MUJIZAT TUHAN YANG TERINDAH. Kami menang dengan nilai, yang kata dewan Juri Sangat SPEKTAKULER, 165. Kami tidak menyangka, tetapi kami tetap rendah hati dan bersyukur pada Tuhan. Kini, lega sudah perasaan kami. Kami bersiap untuk esok hari, tentunya di babak semifinal.

Sesampainya di LPMP, kami begitu lelah dan capek. Selesai berdoa bersama, sebagian dari kami tidur dan ada yang bersiap-siap untuk belajar. Sedikit waktu kami sisihkan untuk yel-yel dan setelah itu kami masuk kamar masing-masing. Seharusnya pada pukul 11 malam, kami harus berdoa malam bersama. Tapi ntah mengapa, kami semua ketiduran dan lupa untuk berdoa malam bersama. Ria, terkejut dari tidurnya, dan menemukan teman-teman yang lain sedang tertidur pulas. Lebih terkejut lagi, saat ia menyadari sekarang sudah dini hari, pukul 4 pagi. Ria, segera bergegas dan membangunkan teman-teman yang lain untuk ibadah. Kami semua merasa begitu bersalah dan begitu berdosa karena semalam kami lupa berdoa. Perlu diketahui, walau ada dari kami yang beragama muslim, tapi disaat ibadah, Dia selalu bersama dengan kami dan berdoa bersama, karena disini bukan diperhitungkan Suku, Agama, Ras, dsb tetapi kekompakan kamilah yang diperlukan.

Sebelum peserta pada semifinal pertama bertanding, mereka disuruh foto bersama dan menampilkan performance mereka. Kemudian giliran kami, peserta di Kloter ke-2, semifinal 2 untuk menunjukan performancenya juga.

Perlombaan dimulai, di babak semifinal 1, SMA Siwalima Ambon berhasil menyingkirkan saingannya, SMK Negeri 2 ambon dan SMA Negeri 2 Kairatu. Tiba saatnya giliran kami bertanding. Perlombaan di babak semifinal 2 melawan SMAN 1 Tual dan SMAN 2 Salahutu berlangsung begitu sengit dan menegangkan. Lawan kami begitu tangguh dan juga sangat cekatan. Bahkan, Leo (Dandy. Panggilan akrabnya) sempat tegang dan grogi saat menjawab soal di babak rebutan. (xixixixi). Tapi, PRAISE LORD, Tuhan masih mengijinkan kami menang di babak semifinal ini, lagi-lagi karya Tuhan begitu nyata dalam kehidupan kami.

Selalu bersyukur dan berterima kasih atas segala hal yang Tuhan lakukan bagi kami. Dukungan dari Ka Tika, Ka Brian, Ka Ely, KKM, dan ka Adrian, kakak-kakak kami tersayang terus mengalir dalam bentuk moriil dan doa. Selain itu, datang juga Ka Felix, Ka Alon, Ka Laurens, dkk yang juga mendukung kami. Kami menjadi begitu bersemangat dan tetap merendahkan diri.

Babak Final pun dimulai. Babak final kali ini beda dari tahun sebelumnya. Tiba-tiba, kita kehadiran para wakil Ketua MPR Ibu __________ dan Bapak ____________ juga Bapak Said Asagaf selaku Wakil Gubernur Maluku. Pada babak yel, kita menampilkan yel yang sangat sederhana dan TANPA LATIHAN SEBELUMNYA. Kita menyanyikan Lagu yang diciptakan oleh Pak Muskita (Guru seni Musik SMANSA) saat kita persiapan lCC tahun 2009 di Jakarta juli lalu.

Hey..We are the SMANSA

Everybody hear???

We Are the SMANSA.

(tu, wa, ga, mpat)

Du..du..du..du.du…du…du…du…du

Du..du..du..du…du…du..du..du..du..du

Satu dua tiga dan empat

Lima enam hitung-hitungan…

Beta cari-cari keliling tempat..

Seng sangka beta ada disini..

Ayo…Ayo tamang..ee

Biar berbeda katong tetap satu..

Mari rame-rame pertahankan Pancasila

S’bagai dasar Negara kita..

UUD ’45 dan juga TAP MPR

Kita laksanakan dan amalkan

S’bagai generasi penerus bangsa

Oh…..oh….Mari tamang..

katong junjungkan sportivitas

dengan semangat maju pantang mundur,

kita raih kemenangan (Kita jadi yang terbaik)

dengan semangat maju pantang mundur…

siswa-siswi SMANSA AMBON…….eeeeee

*SMANSA AMBON*

*IS WONDERFUL*

Di babak soal tematik, Kita tidak lagi memilih soal. Tapi, kita gunakan system seperti GrandFinal LCC tahun 2009 di Jakarta. 3 orang tamu besar tersebut mengambil undian nomor regu. Dan regu pertama adalah regu B. itu berarti SMA Negeri 1 Ambon.

31 thoughts on “LCC UUD 1945 dan TAP MPR

  1. wah, selamat, kita ketemu di Jakarta….
    JATENG akan menghadapi dengan penuh do’a…
    Bersatu, cerdas , optimis!!!!

  2. wuahhh…..
    perlombaan cc memang nggak ada habisnya
    ngebuat pengalaman makin
    bertambah dan makin seru ya???

  3. Shobakhalkhair,. hmm,. mari kita sama2,. berjuang lcc ne,. do’akan sman 1 way jepara, lampung timur,. kita bermain sehat,.

  4. waaah asik ya ! gw dari SMA Al-Kautsar Bandar Lampung.
    buat yang dari lampung timur ntar qt ketemu ! hihi
    udah persiapan bgt ya?

  5. al kausar,, gmane kabar dsana? uda siap nghadapi smansa way jepara? xixixixixi… tgl 9 kite ktemu dah…

  6. lahat itu di sumatra selatan.. gitu aja gk tau, gmna mau jd anggota dewan, hwhwhwhw

    LAMPUNG bakal berjuang tanggal 9-12 besok ni, smoga aj SMAN1 WAY JEPARA bisa ke nasional, dan mengikuti jejak SMAN1 METRO, jadi juara nasional, hwhwhwhw

  7. makasih kak atas kisahnya,

    sekarang kami punya gambaran bagaimana LCC UUD di Tingkat Provinsi

  8. pray us to be the best,,,
    and do the best like we coukd,,,,,
    add me on fb at that email addres,,,
    hope we can share longer,,,,
    thanks,,,

    • byk. bisa kenal tmn” lbh byk. yg d prov aja dpt byk tmn dr kabuptn lain, apalagi yg di nasional, lbh byk tmn lg dr seluruh nusantara
      trs pengetahuan bertambah…. n dpt pengalaman baru🙂
      hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s